*sebelum baca tulisan ini, baca dulu tulisan yang di bawah yaa.., judulnya "Mahasiswa Boneka" (ben nyambung) :D
setelah baca puisi yang judulnya "Mahasiswa Boneka", (lagi-lagi) aku iseng baca komentnya. hehe :D
eh ada lagi ni puisi bagus, tp gatau yang ini judulnya apa. dipost-kan oleh dark angel
cekidot* (lagi)
Keramaian kerumun sibakkan hening,sunyi
Koar lagu-lagu bermelodi amarah
Unjuk rasa coba kembalikan hak-hak terampas
Hukum di tegakkan,
Kemewahan di menangkan
Fasilitas rakyat kecil di korbankan.
Bukan perjuangan namanya jika rakyat kecil tak peroleh keadilan
melepas dahaga saja di cekal bagaimana dengan hak kami yang mereka rengkuh?
Seberapa mahal seorang lelaki tua miskin harus membayar sebutir semangka?
Berapa lembar baju dalam yang harus di gadaikan si nenek reot untuk membayar butir-butir curian?
Dan seberapa murah seorang koruptor harus mambayar pengacara untuk terbebas dari maut?
Bagaimana keadilan kan tegak jika pencuri ayam mesti tewas dihajar massa sedang tikus-tikus tak sedikitpun tersentuh hantaman semut?
Bunda,maaf jika beta lancang bersuara
Tapi beta iri lihat mobil mewah mereka
Beta bosan tahan lapar
Beta jenuh diolok-olok teman sekolah gara-gara selalu telat bayar iuran 500 perak
Baginda,maaf beta tak sopan berkata-kata
Tapi beta juga ingin kaya
Tapi,,,bagaimana beta bisa kaya jika sekolah saja susah?
Bagaimana prestasi bisa beta raih jika jatah beli buku-buku sudah jadi mobil-mobil mewah?
Maaf,beta hanya anak ingusan lahir semalam
Tak mengerti akhlak apalagi budi pekerti
Maaf,beta hanya anak kecil pengais rezeki di istana baginda raja
Bukan maksud hati tuk menghina
Hanya beta coba menyapa
Dari sudut sepi tak didengar
aku suka, dan semoga yang baca juga suka..
*ngga bermaksud melanggar hak cipta (walaupun emg copast :D) tp cuma ingin berbagi :)
tentang senja dan ujung ilalang
tentang senja di ujung ilalang
Mengenai Saya
Selasa, 08 Maret 2011
judulnya "Mahasiswa Boneka"
barusan aku iseng-iseng aja buka google, trs ngetik salah satu kata kunci "puisi" (enter) -next- puisi cinta-syair cinta-kumpulan puisi penyair muda Indonesia (klik) -next- kategori puisi umum (klik) -next- tema umum "sosial" (klik)
aku baca baca......dan mataku tertuju pada satu judul puisi yang....buat aku itu menarik..
judulnya "Mahasiswa Boneka" by ran_ran
cekidot*
Menjadi seorang Mahasiswa
Konon,,
Mahasiswa seperti Dewa..
dewa yang berbentuk manusia..
Macam lakon yang kacau..
Aksi tak pakai fikir
Aksi tak pakai hati
Panji kebenaran saja tak berani disibak
Jadi apa?
jadi dewa?
Berlakon saja tidak becus..
Belagu dengan kesombongan
Kosong dengan hati nurani..
inteluktual?
Mahasiswa aPa?
Bonekanya Birokrat..
Mahasiswa Boneka..
Tidur saja..
nina Bobo…
Mahasiswa Boneka
menurut kalian gmn ?
aku baca baca......dan mataku tertuju pada satu judul puisi yang....buat aku itu menarik..
judulnya "Mahasiswa Boneka" by ran_ran
cekidot*
Mahasiswa Boneka
Dalam bisu mengupas sebuah kepenatanMenjadi seorang Mahasiswa
Konon,,
Mahasiswa seperti Dewa..
dewa yang berbentuk manusia..
Macam lakon yang kacau..
Aksi tak pakai fikir
Aksi tak pakai hati
Panji kebenaran saja tak berani disibak
Jadi apa?
jadi dewa?
Berlakon saja tidak becus..
Belagu dengan kesombongan
Kosong dengan hati nurani..
inteluktual?
Mahasiswa aPa?
Bonekanya Birokrat..
Mahasiswa Boneka..
Tidur saja..
nina Bobo…
Mahasiswa Boneka
menurut kalian gmn ?
rentannya agama atas tuduhan sumber konflik horisontal © 2011
RENTANNYA AGAMA ATAS TUDUHAN SUMBER KONFLIK HORISONTAL
NAMA: ISWORO LARASATI
NIM: 10413241040
PENDIDIKAN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI
2011
Latar Belakang
Dewasa ini, seringkali banyak asumsi yang menyatakan bahwa agama ikut andil dalam memicu berbagai macam konflik, bahkan ada pula yang menyebut agama sebagai sumber terjadinya konflik. Asumsi tersebut memang sulit dibantah. Secara historis, sejumlah peristiwa dalam skala internasional, seperti Perang Salib dan konflik antara Israel dan Palestina, maupun peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam negeri yang berbau syara, seperti kasus di Poso, bom Bali, dan yang belum lama ini dibicarakan yaitu pengrusakan tempat ibadah yang terjadi di Temanggung, Jawa Tengah. Itu merupakan sebagian kecil contoh yang menunjukan bahwa agama ikut andil dalam memicu terjadinya konflik. Ironis memang, karena di satu sisi agama mengajarkan kepada penganutnya agar bisa hidup dengan penuh kedamaian, saling mencintai, saling menghormati, dan saling tolong menolong, tapi di sisi lain yang dapat kita lihat dalam kenyataannya justru kondisi masyarakat beragama jauh dari tatanan ideal ajaran agama yang dianutnya.
Rumusan Masalah
· Apa sebenarnya penyebab konflik yang terjadi di Indonesia ?
· Benarkah agama sebagai sumber penyebab konflik ?
· Bagaiman sulusi yang dapat diambil untuk menyelesaikan konflik tersebut ?
· Bagaimana toleransi yang baik ?
Pembahasan
Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang plural, terutama pluralitas yang bercorak promordial (menganggap apa yang dianutnya atau dibawanya sejak lahir adalah sesuatu yang paling benar). Pluralitas masyarakat Indonesia bukan hanya karena keanekaragaman suku, ras, dan bahasa, tetapi juga dalam hal agama. Dalam hubungannya dengan agama, pengalaman beberapa waktu terakhir memberikan kesan yang kuat akan mudahnya agama menjadi alat provokasi dalam menimbulkan ketegangan di antara umat beragama. Umat beragama seringkali bersikap memonopoli kebenaran ajaran agamanya, sementara agama lain sering diberi label tidak benar atau salah. Sikap seperti ini, secara langsung maupun tidak langsung dapat memicu umat agama lain untuk mengadakan jihad dalam rangka mempertahankan agamanya. Sikap ini yang nantinya juga akan menyebabkan keretakan hubungan antara umat beragama.
Di sini saya ambil contoh mengenai kekerasan yang terjadi di Temanggung dan Cikeusik. Kekerasan ini dilakukan oleh sekelompok masyarakat (atau bisa disebut organisasi) tertentu sebagai reaksi terhadap Ahmadiyah. Ajaran Ahmadiyah sangat bertentangan dengan ajaran Islam, bahkan mereka telah terusir dari negeri asal mereka India dan Pakistan, Pada tahun 1974, ulama Islam dari 124 negara mengadakan pertemuan di Makkah al-Mukarramah yang disponsori oleh Rabithah al-Alam al-Islami. Dicapai kesepakatan bulat bahwa Mirza Ghulam Ahmad Qadiani dan pengikut-pengikutnya adalah ingkar/mungkar, kafir, dan murtad dari Islam.
Pendiri Ahmadiyah yaitu Mirza Ghulan Ahmad mengaku dirinya sebagai:
· Nabi Isa yang kedua yang kedatangannya telah diramalkan Rasulullah SAW di beberapa hadits
· Sebagai nabi yang datang setelah nabi Muhammad SAW, tetapi tidak membawa syariat (dipercaya oleh golongan Ahmadiyah Qadani)
· Sebagai Imam Mahdi, Mujadid, Krishna dan masih banyak pengakuan serta gelar yang ada pada seorang Mirza Ghulam Ahmad. (http://ahmadiyah.20m.com/, diakses tanggal 8 Maret 2011, pukul 16:27)
Karena Ahmadiyah dianggap menyimpang dari ajaran agama Islam, atau bisa
dikatakan bahwa para penganut Ahmadiyah telah melakukan penistaan terhadap agama, dengan ajaran yang dibawanya tersebut, maka muncullah reaksi dari sekelompok masyarakat dalam bentuk kekerasan yang terjadi di Temanggung dan Cikeusik tersebut.
Namun disinyalir, selain disebabkan karena faktor agama, ada beberapa kalangan yang sengaja memanfaatkan kasus ini untuk berbagai kepentingan seperti politik misalnya.
JAKARTA, KOMPAS.com — Rangkaian insiden Cikeusik, Pandenglang, Banten, dan amuk massa di Temanggung, Jawa Tengah, baru-baru ini, memunculkan tiga spekulasi penyebab terjadinya peristiwa tersebut.
Ada yang menyebutkan karena memang adanya kemarahan umat akibat penistaan agama, akan tetapi juga ada yang menyebutkan adanya kesengajaan untuk mendiskreditkan tokoh agama yang pernah menyatakan pemerintah berbohong, sehingga tokoh agama sebaiknya tidak mengurusi politik, akan tetapi mengurusi umat. Sedangkan spekulasi lainnya adalah adanya pihak-pihak yang mendompleng untuk mempercepat kejatuhan pemerintah dengan munculnya peristiwa tersebut.
Direktur Sekolah Pascasarjana Islam Negeri Jakarta, Azyumardi Azra, di Jakarta, menyatakan motif untuk mendiskreditkan para tokoh agama yang pernah mengeluarkan pernyataan kritisnya terkait kinerja pemerintah maupun motif dari pihak-pihak tertentu yang ingin menjatuhkan pemerintah dengan rangkaian insiden Cikeusik dan amuk massa di Temanggung, dinilai akan sia-sia dan tidak akan pernah berhasil.
Jika ada motif seperti itu justru dinilai sangat membahayakan dan menghancurkan kesatuan dan persatuan bangsa. Oleh sebab itu, Azyumardi, saat dihubungi di Jakarta, Rabu (9/2/2011), berharap Kepolisian Negara RI untuk segera mengungkapkan secara tuntas motif dan latar belakang rangkaian peristiwa tersebut.
"Kalau dilihat dari peristiwa dan informasi sebelumnya yang diketahui oleh aparat, seharusnya rangkaian peristiwa itu tidak perlu terjadi di Cikeusik, Pandenglang, Banten, dan Temanggung, Jawa Tengah. Oleh sebab itu, harus dicari tahu sungguh-sungguh apa sebenarnya yang terjadi," ungkap Azyumardi.
Menurut Azyumardi, masyarakat selama ini sudah cukup dewasa dan mengetahui serta merasakan apa yang menjadi persoalan sehari-hari di bidang sosial dan ekonomi. "Kedua motif tersebut jika dikedepankan justru akan mempercepat eskalasi politik mengingat persoalan sosial ekonomi yang saat ini membebani masyarakat," lanjut Azyumardi.
Azyumardi menambahkan, jika ternyata dua motif itu benar, Indonesia semakin dekat dengan apa yang disebut kegagalan pemerintah mengelola negara.
Pemerintah tak hadir
Sementara, menurut mantan Rektor Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Sofian Effendi, pihaknya tidak menyoroti motif dari peristiwa tersebut. "Biarlah Polri yang mengungkap motif dan latar belakangnya. Bagi saya, peristiwa kemarin tidak ada hubungannya dengan konflik antar-agama. Mungkin yang paling utama adalah faktor tidak dirasakannya kehadiran pemerintah yang mengelola negara ini untuk melindungi dan mencegah terjadi aksi-aksi kekerasan," katanya.
Sofian mengakui, jika perasaan masyarakat semakin tinggi akan ketidakhadiran pemerintah untuk melindungi hak-hak masyarakat, maka benar seperti yang dikhawatirkan masyarakat bisa terjadinya kegagalan negara.
Seusai melapor kepada Wakil Presiden Boediono, Kepala Kepolisian Negara RI Jenderal Timur Pradopo yang ditanya pers soal kemungkinan motif di balik insiden Cikeusik dan amuk massa di Temanggung untuk mendiskreditkan para tokoh agama dan motif pihak-pihak tertentu yang ingin mendompleng untuk mempercepat jatuhnya pemerintah, Timur tidak menjawab.
"Sekali lagi, langkah pengungkapan yang dilakukan Polri akan didasarkan pada fakta hukum yang akan dikembangkan dari hasil penyelidikan dan penyidikan," kata Kapolri. (http://regional.kompas.com/read/2011/02/09/22252754/3.Spekulasi.Insiden.Cikeusik-Temanggung, diakses tanggal 8 Maret 2011, pukul 16:46)
Kasus kerusuhan secara beruntun yang membawa nama agama yang terjadi di Temanggung, Jawa Tengah, dan Cikeusik, Pandeglang, Banten disebabkan karena pemerintah tidak segera mengambil langkah yang tegas untuk mengatasi masalah tersebut.
JAKARTA, KOMPAS.com — Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan menanggapi kasus-kasus terkait dengan kekerasan agama di Indonesia, terutama kekerasan di Pandeglang dan Temanggung, terjadi karena negara, dalam hal ini pemerintah, sering absen untuk menindaklanjuti kasus-kasus yang sudah sering terjadi di Indonesia.
Menurut dia, absen berarti pemerintah memilih tidak melakukan sesuatu yang konkret dalam penanganan kasus kekerasan dengan simbol agama. "Negara memilih absen. Dimaksudkan absen di sini karena memilih untuk tidak melakukan sesuatu, tidak mengambil sikap tegas untuk kasus kekerasan seperti ini," ucap Anies dalam jumpa pers di Energy Building, Rabu (9/2/2011).
Anies juga menambahkan, kecenderungan absen ini sebagai kecenderungan negara mencari aman dalam peristiwa-peristiwa itu. Hal ini mengakibatkan kesan seolah-olah negara Indonesia menoleransi adanya kekerasan agama. Padahal, Indonesia terkenal sebagai negara yang memiliki toleransi besar dalam hidup beragama.
"Negara kita memang negara yang memiliki toleransi beragama secara garis besar. Namun, karena pemerintah absen untuk kasus-kasus agama seperti itu, ada kesan seolah-olah Indonesia menoleransinya," kata Anies.
Anies Baswedan memberikan pernyataan sikap ini setelah melihat adanya bentuk pembiaran terhadap kekerasan (violence by omission), termasuk kekerasan dengan label agama. Ia mengharapkan negara menargetkan untuk mengatasi kekerasan di Indonesia secara tegas, tidak melalui pernyataan semata. (http://regional.kompas.com/read/2011/02/09/18140646/Negara.Absen.Tangani.Kekerasan.Agama, diakses tanggal 8 Maret 2011, pukul 17:47)
Melihat dari contoh kasus diatas, dapat disimpulkan bahwa agama sejatinya tidak pernah mengajarkan kekerasan, dan tidak pernah membenarkan kekerasan. Kalaulah ada ajaran kekerasan yang dianggap dari agama, pastilah itu adalah sebuah tafsir yang keliru. Sebenarnya, perbedaan dan keberagaman di Indonesia bisa menjadi sumber kekuatan apabila dikelola dalam solidaritas yang kuat untuk kemajuan, tetapi bisa disulut menjadi bentrokan antar kelompokjika tidak ditangani dengan baik.
Jika dipelajari, sesungguhnya akar masalah dalam bentrokan bernuansa agama tidak murni dari masalah agama. Banyak faktor lain yang menjadi penyebab gesekan, tetapi disalurkan seolah-olah lewat konflik agama. Padahal, konflik sesungguhnya bersumber dari soal hukum, politik, dan ekonomi. Elite agama dan politik semestinya tidak menjadikan agama sebagai komoditas politik.
Solusi
“Toleransi” dipandang sebagai kata kunci yang dapat mengurai simpul kerumitan dalam hidup antar umat beragama. Toleransi menunjuk pada adanya suatu kerelaan untuk menerima kenyataan adanya orang lain yang berbeda. Toleransi diartikan memberi tempat kepada pendapat lain yang berbeda. (Sudrajat, Ajat, dkk. (2008). Din Al-Islam. Yogyakarta: UNY Press., hal. 141)
Ayat 256 surat al-Baqarah sering dijadikan landasan teori tentang toleransi dan kebebasan beragama. Ayat tersebut, menurut Quraish Shihab (1994:368) adalah berkaitan dengan kebebasan memilih agama Islam atau selainnya. (Sudrajat, Ajat, dkk. (2008). Din Al-Islam. Yogyakarta: UNY Press., hal. 142). Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa seseorang mempunyai wewenang atau hak untuk memeluk agama yang diyakininya sebagai suatu kebenaran. Sehingga jelas, kita atau orang lain tidak mempunyai hak untuk melarang atau menghakimi orang lain yang memeluk agama yang berbeda dengan kita. Walaupun ajaran dalam agama mereka dikatakan sesat, kita tidak perlu menghakiminya dengan cara kekerasan, ataupun melecehkan agama tersebut. Kita dapat mengingatkannya melalui jalan yang tidak mengundang gejolak, misalnya seperti melakukan diskusi agama, dan sebagainya. Atau dengan hal yang mungkin sepele, yaitu saling menghormati hak dan kewajiban antar pemeluk agama.
Melalui cara tersebut, mungkin mereka akan berpikir dan sadar dengan sendirinya bahwa ajaran agamanya tersebut adalah kurang benar atau salah. Seperti di Banten, ada jemaah Ahmadiyah yang kembali menjadi Islam yang benar, yakni di desa Cisereh, kecamatan Cisata. Jumlahnya 26 keluarga kurang, lebih dari 50 orang.
Toleransi dalam beragama bukan berarti kita harus hidup dalam ajaran agama lain.Namun toleransi dalam beragama yang dimaksudkan disini adalah meng- hormati agama lain. Dalam bertoleransi janganlah kita berlebih-lebihan sehingga sikap dan tingkah laku kita mengganggu hak-hak dan kepentingan orang lain. Lebih baik toleransi itu kita terapkan dengan sewajarnya. Jangan sampai toleransi itu menyinggung perasaan orang lain. Toleransi juga hendaknya jangan sampai merugikan kita, contohnya ibadah dan pekerjaan kita.
Kesimpulan
Kondisi masyarakat Indonesia yang plural dengan beragam suku, ras, agama, dan lain-lain, dapat menimbulkan berbagai macam konflik seperti yang sering terjadi selama ini. Dalam hal agama sendiri, sering terjadi konflik yang disebut bersumber dari agama, seperti kekerasan yang terjadi di Temanggung dan Cikeusik. Namun jika dipelajari, sesungguhnya akar masalah dalam bentrokan bernuansa agama tidak murni dari masalah agama. Banyak faktor lain yang menjadi penyebab gesekan, tetapi disalurkan seolah-olah lewat konflik agama. Padahal, konflik sesungguhnya bersumber dari soal hukum, politik, dan ekonomi. Elite agama dan politik semestinya tidak menjadikan agama sebagai komoditas politik. Pada dasarnya agama manapun mengajarkan kepada kebaikan. Namun terkadang para pemeluknya lah yang salah langkah.
Untuk mengatasi masalah yang berhubungan dengan agama tersebut, tidak dapat diselesaikan melalui cara-cara kekerasan, namun dapat dilakukan dengan cara halus seperti mengadakan diskusi agama dan sebagainya. Selain itu juga, masing-masing dari individu sendiri harus bisa menghormati pendapat, atau kepentingan orang lain. Dengan kata lain, kuncinya adalah toleransi.
Toleransi dalam beragama bukan berarti kita harus hidup dalam ajaran agama lain.Namun toleransi dalam beragama yang dimaksudkan disini adalah meng- hormati agama lain. Dalam bertoleransi janganlah kita berlebih-lebihan sehingga sikap dan tingkah laku kita mengganggu hak-hak dan kepentingan orang lain. Lebih baik toleransi itu kita terapkan dengan sewajarnya. Jangan sampai toleransi itu menyinggung perasaan orang lain. Toleransi juga hendaknya jangan sampai merugikan kita, contohnya ibadah dan pekerjaan kita.
Minggu, 06 Maret 2011
news: Jasad Korban Pantai Glagah Ditemukan
KULONPROGO, KOMPAS.com — Jasad Budi Setiawan (21), satu dari dua mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Janabadra, Yogyakarta, yang tenggelam di Pantai Glagah, Sabtu kemarin, Minggu (6/3/2011) dini hari berhasil ditemukan tim SAR.
Jasad Budi tersangkut pada beton cor tripod bangunan pemecah gelombang (break water). Dengan ditemukannya jasad Budi, maka seluruh korban tenggelam sudah berhasil ditemukan. ”Setelah dicari lebih dari enam jam, akhirnya kedua korban berhasil kami temukan,” kata komandan regu SAR Glagah, Sugeng.
Menurut dia, upaya evakuasi terhadap jasad Budi tidak bisa dilakukan secara cepat. Butuh waktu sekitar satu jam untuk bisa mengangkat ke atas daratan. Sebab, badan pemuda nahas ini terjepit di beton bertulang. Saat diangkat terlihat beberapa luka di tubuhnya yang diduga akibat terbentur pemecah ombak.
Musibah ini mendapatkan perhatian dari Pemkab Kulonprogo. Bupati Kulonprogo Toyo Santoso Dipo pun ikut mendatangi lokasi kejadian. Pemkab juga membantu kepulangan jenazah. ”Keduanya adalah mahasiswa, sudah menjadi kewajiban kami membantu mereka,” ujar Toyo.
Selain Budi Setiawan, satu korban lainnya adalah Elfan Aprin Sinaga. Keduanya merupakan warga Medan, Sumatera Utara. Satu mahasiswa lainnya, Printo Kubela (25), warga Ambon, Maluku, berhasil menyelamatkan diri setelah sempat ikut terbawa gelombang.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, kedua korban ini tenggelam ketika sedang mandi di muara Sungai Serang yang berbatasan langsung dengan pantai.
Sabtu, 05 Maret 2011
ketika aku mulai bisa menulis
ketika aku tau makna garis itu
ketika anganku sebanding dengan goresan garis yang tercipta
aku mulai bisa menulis...
ku keluarkan penaku untuk mulai membuat hitam kertasku
ku lihat dan ku maknai arti hitamnya kertasku
mataku melihat dan dimaknai oleh imajiku menjadi sebuah rangkaian
sebuah garis garis hitam membentuk huruf, kata, tulisan bermakna
aku berhenti ketika mata dan hatiku beradu dengan otakku
pacuan jantung berdetak karenanya
terbentur hitamnya kosong imajinasi yang kusut
rangkaian rangkaian menjadi kosong tanpa arti
dan ketika aku mulai tak bisa menulis
aku terdiam.....
Langganan:
Postingan (Atom)




